KARUNAKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Pemerintah Kota Tanjungpinang mendorong penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penggerak utama ekonomi daerah yang pada 2025 tumbuh 3,31 persen.
Maka dari itu Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah menilai, keberadaan dari para pelaku UMKM menjadi rantai penting untuk keberlangsungan ekonomi daerah.
Pernyataan Lis tersebut saat Rapat Koordinasi Temu Pelaku UMKM di Hotel Alltrue, Rabu 22 April 2026.
Rakor diikuti sekitar 100 pelaku UMKM, terdiri dari 40 perwakilan IKM Disperindag, 40 perwakilan Disnaker, dan 20 perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta pelaku ekonomi kreatif.
Hadir juga, sejumlah pimpinan perbankan dari Himbara, bank swasta, dan bank daerah.
Dalam kegiatan itu juga dilakukan penyerahan bantuan simbolis kepada pelaku usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk tiga pelaku usaha kuliner, tiga penjahit, dan satu pelaku kerajinan.
Selain itu, diberikan sertifikat HKI kepada tiga pelaku usaha serta sertifikat halal bagi pelaku usaha mikro.
Lis juga menilai, bahwa struktur ekonomi daerah yang tidak bertumpu pada sumber daya alam semata.
Melainkan keberadaan UMKM juga menjadi sektor paling strategis dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat.
“UMKM ini rantai penting ekonomi kita. Jika tumbuh, kemiskinan dan pengangguran ikut turun,” kata Lis.
Tercatat lebih dari 10.463 pelaku UMKM kuliner di Tanjungpinang.
Namun, sebagian belum terpetakan secara jelas berdasarkan skala usaha, mulai dari usaha harian, produk unggulan, hingga pelaku yang siap memperluas pasar.
Kondisi tersebut membuat intervensi pemerintah belum sepenuhnya tepat sasaran, terutama dalam penguatan kapasitas usaha, akses permodalan, dan perluasan pasar.
“Yang perlu dipastikan bukan hanya jumlah UMKM, tetapi mana yang sudah punya produk unggulan, mana yang siap naik kelas, dan mana yang masih membutuhkan penguatan modal,” ujar Lis.
Penguatan UMKM, kata Lis, tidak cukup berhenti pada pelatihan, tetapi perlu disertai akses pembiayaan, pendampingan usaha.
Serta juga strategi pemasaran yang terhubung ke pasar nasional.
Potensi lokal juga menjadi fokus pengembangan, terutama sektor kelautan.
Komoditas seperti ikan pari dan gonggong dinilai memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari makanan olahan, produk turunan, hingga cenderamata khas daerah.
“Jika prospeknya baik, pengembangan dapat dilakukan melalui kerja sama produksi bersama BUMN, perbankan, serta kolaborasi dengan UMKM di luar daerah,” sebut Lis.***








