KARUNAKEPRI.COM, BATAM – Pagi itu, Sabtu, 11 April 2025, langit Batam tampak cerah, seolah merestui deru mesin motor dan mobil yang merapat ke pelataran Golden View Hotel. Namun, yang hadir hari itu bukan sekadar tamu hotel biasa yang hendak berlibur. Mereka adalah sekumpulan anak muda dengan gurat wajah penuh tekad. Di pundak mereka, melekat seragam biru khas Karang Taruna—sebuah simbol yang bukan sekadar identitas, melainkan janji bakti pada negeri.
Ratusan pemuda dari berbagai penjuru kelurahan dan kecamatan di Kota Batam berkumpul. Ada warna yang sama, namun ada ribuan cerita yang berbeda di balik seragam mereka. Mereka datang membawa satu keresahan: bagaimana memastikan tak ada tetangga mereka yang kelaparan, dan tak ada lansia yang terlupakan di sudut-sudut kota yang kian megah ini.

Getar Nurani di Balik Angka
Pertemuan ini bukan sekadar seremoni formalitas. Sosialisasi Permensos Nomor 9 Tahun 2025 menjadi magnet utamanya. Namun, saat Kepala Dinas Sosial Kota Batam, Zulkifli Aman Sos, MM, berdiri di podium, suasana yang semula riuh perlahan senyap. Kalimat demi kalimat yang meluncur darinya bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan panggilan nurani.
“Ada enam puluh ribu jiwa lansia di kota kita,” ujar Zulkifli dengan nada suara yang bergetar namun tegas. Angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Di balik angka 60.000 itu, ada wajah-wajah renta yang mungkin sedang menunggu bantuan, ada yang fisiknya masih bugar, namun tak sedikit yang sedang bertarung dengan sisa-sisa napas di atas ranjang lapuk.
Zulkifli mengingatkan para pemuda bahwa pemerintah memiliki keterbatasan. “Hanya 25 ribu yang bisa tersentuh bantuan langsung secara rutin. Lantas, bagaimana dengan sisanya? Bagaimana dengan mereka yang tercecer karena administrasi?” Di sinilah Karang Taruna harus hadir. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai detak jantung sosial di lingkungan masing-masing.
Mendengar itu, para peserta yang hadir—dari Kecamatan Bengkong hingga ujung pesisir Batam—seolah diingatkan kembali pada hakikat asli organisasi ini: Kesejahteraan Sosial. Karang Taruna dituntut memiliki “insting” yang peka. Mereka harus menjadi mata bagi pemerintah yang tak bisa melihat hingga ke gang-gang sempit, dan menjadi tangan bagi mereka yang tak mampu menjangkau pintu birokrasi.

Pejuang Data: Melawan Lupa, Menjemput Hak
Tantangan besar di tahun 2025 ini adalah satu data kependudukan. Kadinsos menekankan betapa krusialnya peran Karang Taruna dalam melakukan verifikasi faktual. Banyak warga yang sudah bertahun-tahun tinggal di Batam, mencari nafkah dan berkontribusi, namun luput dari bantuan hanya karena belum memiliki KTP setempat atau data yang tak terupdate.
“Update data adalah jihad kemanusiaan kita,” bisik salah seorang kader di barisan belakang. Semangat inilah yang ingin dikobarkan. Karang Taruna diharapkan menjadi jembatan agar bantuan pemerintah tepat sasaran. Tidak boleh lagi ada pensiunan ASN yang secara ekonomi sudah stabil mengambil jatah mereka yang benar-benar membutuhkan. Kejujuran data adalah kunci keadilan.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Anggota MPKT Juniardi Adinda, ketua karang taruna kota Batam Drs Zul Arif, Wakil Ketua 1 Jogie Suaduon, dan Wakil Ketua 2 Wahyono di lokasi, memberikan sinyal kuat bahwa struktur organisasi ini solid dan siap bertempur di medan pengabdian. Mereka memberikan arahan bahwa persiapan Temu Karya bukan sekadar ajang ganti pengurus, melainkan momentum re-generasi semangat pengabdian.
Benteng Literasi di Era Digital
Namun, tantangan zaman bukan hanya soal perut dan kemiskinan fisik. Di era informasi yang berlari lebih cepat dari akal sehat, hoaks menjadi racun yang mematikan persaudaraan. Irwansyah dari Kominfo Batam hadir membawa pesan dari Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital).
Melalui pembentukan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang berlandaskan Permenkominfo No. 4 Tahun 2024, Karang Taruna kini mengemban misi baru: menjadi “polisi informasi” sekaligus pendamping literasi digital bagi warga. Mereka adalah garda terdepan yang akan memilah mana informasi yang membangun dan mana yang hanya memecah belah.
“KIM bukan soal teknologi canggih, tapi soal hati yang ingin menjaga masyarakat dari kebohongan,” pesan Irwansyah. Karang Taruna diharapkan bisa memfasilitasi komunikasi yang macet antara warga dan pemerintah melalui kanal-kanal digital yang positif.
Terima Kasih untuk Sang Penggerak
Di balik kemegahan acara dan gairah semangat yang meluap, ada rasa syukur yang mengalir dalam doa. Pengurus dan anggota Karang Taruna Kota Batam menyadari, tanpa dukungan tangan-tangan dingin yang peduli, langkah besar ini akan terasa berat.
Secara khusus, ucapan terima kasih yang mendalam mengalir untuk Bapak Zulkaf Hambali dari Dinsos. Beliau adalah sosok yang berada di balik layar, yang dengan segala dedikasinya memastikan kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan paripurna. Bagi para kader, beliau bukan sekadar senior, melainkan mentor yang memastikan api semangat Karang Taruna tetap menyala di Kota Batam.

Menuju Esok yang Lebih Baik
Ketika matahari mulai condong ke barat dan acara berakhir, para pemuda itu melangkah keluar dari hotel dengan langkah yang lebih mantap. Mereka pulang bukan hanya membawa dokumen sosialisasi, tapi membawa misi suci.
Di mata mereka, kini Batam bukan lagi sekadar kota industri yang bising dengan mesin pabrik. Batam adalah rumah besar yang harus dijaga martabatnya. Dengan Permensos Nomor 9 Tahun 2025 sebagai kompas, dan insting sosial sebagai kemudi, Karang Taruna Kota Batam siap meluncur menuju Temu Karya, siap menjadi pelayan rakyat sejati.
Sebab, di tangan pemuda yang peka, kesejahteraan bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas, melainkan kenyataan yang dijemput dengan kerja keras. (Red)
Editor : Dedi








