KARUNAKEPRI.COM, BATAM – Dalam rangka menumbuhkan minat dan membaca dikalangan para pelajar SMPN 26 Batam. Pihak sekolah menggelar Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan pelatihan Jurnalistik.
Kegiatan pelatihan Literasi dan jurnalistik ini diikuti sebanyak seratus peserta yang dihadiri oleh Siswa-siswi SMPN 26 kota Batam dan juga guru pendidik.
Kegiatan ini bekerjasama dengan persatuan wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam yang dihadiri oleh Harment Aditya, SE sebagai narasumber yang diundang dan sebagai wartawan senior juga pengurus PWI dibidang pendidikan. Bertempat di Aula Lantai 2 SMPN 26 kota Batam, Kamis (04/12/2025).
Membuka kegiatan pelatihan, Kepala Sekolah SMPN 26, Zepmon Prima Putri, S. Pd secara langsung hadir dan memberikan sambutan juga motivasi bagi para pelajar agar bersungguh-sungguh mengikuti dan mendengarkan pemaparan dari pemateri nantinya.
“Pihak sekolah memberikan fasilitas kepada guru dan murid untuk mengikuti pelatihan Literasi dan jurnalistik. Walaupun nilai Literasi di tahun 2025 terbilang cukup baik, namun perlu terus ditingkatkan” ujar Zepmon.
Lebih lanjut guru yang pernah menjabat sebagai Waka Kurikulum Kesiswaan ini berharap, agar semua peserta mengikuti pelatihan ini dengan semangat, menyimak dengan seksama sehingga dapat dipraktekkan nantinya.
“Harapan nya, agar anak-anak didik juga guru yang ikut pelatihan ini bisa menjadi jurnalis yang baik, sehingga menghasilkan sesuatu yang betul betul kita butuhkan. Juga semua informasi dan prestasi yang ada di sekolah SMPN 26 ini bisa disebarkan melalui media sosial yang sekarang ini sangat dibutuhkan umat manusia”, pungkasnya.
Selanjutnya, pemateri Harment memaparkan kegiatan pelatihan ini dalam dua sesi.

Untuk sesi pertama, materi tentang Gerakan Literasi Sekolah. Yang mana berdasarkan survei dari Studi Most Littered Nation in the World 2022, dari 61 negara. Indonesia menempati urutan ke-60 berada dibawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61).
Yang artinya, minat baca Indonesia terendah. Bahkan di Asean masih sangat jauh, ungkap Harment.
Sebagai perbandingan; Bagi masyarakat Eropa atau Amerika khususnya, anak-anak dalam setahun bisa membaca 25-27% buku. Selain itu Jepang juga minat baca nya bisa mencapai 15-17% pertahun.
Sementara anak-anak/pelajar di Indonesia jumlahnya hanya mencapai 0,01% pertahun.
Data dari Perpustakaan Nasional (Perpunas) tahun 2022 frekuensi membaca anak-anak/pelajar rata-rata hanya 3-4 kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata 5-9 buku pertahunnya. Padahal infrastruktur bacaan mendukung dan peringkat indonesia di urutan 34 berada diatas negara-negara Eropa. Sehingga IPM Indonesia sangat rendah sebesar 14,6%.
Hasil tes anak indonesia bersama 117 negara oleh United Nation for Development Programme (UNDF) hanya menduduki posisi 111.
Dari laporan bank dunia Studi Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement di Asia Timur, menunjukkan bahwa keterampilan membaca Indonesia terendah dengan skor tes 51,7.
“Dari uraian data tersebut dapat disimpulkan bahwa minat berpikir berkurang, karena murid kurang diajari kompetisi secara akademik. Sehingga pelatihan Literasi ini perlu terus digerakkan,” bebernya.
Berikut beberapa tips untuk menyukseskan GLS di sekolah :
1. Pembiasan membaca dari guru dan mengajak siswa
2. Referensi buku di perpustakaan memudahkan akses siswa
3. Pemberdayaan mading dengan berbagai info
4. Membiasakan siswa membuat resume setiap kegiatan dalam bentuk portofolio
5. Membuat sudut baca
6. Membuat pohon Literasi terkait keinginan siswa
7. Membuat poster berisi ajakan motivasi
8. Membuat papan karya Literasi
9. Membuat lomba Literasi
10. Mengadakan seminar seperti bedah buku atau Workshop antar kelas
11. Membuat majalah atau tabloid yang mengajak siswa ikut terlibat membuat karya tulis.

Pada sesi kedua pemateri Harment memaparkan tentang pelatihan menjadi Jurnalis sekolah dan mengajak siswa untuk menjadi wartawan cilik dengan menerangkan tentang pengertian dari Jurnalis, cara membuat sebuah berita, bentuk dari sebuah berita, teknik wawancara dan latihan menulis.
Menurut Harment, seyogyanya pelatihan jurnalis itu akan memakan waktu untuk pelatihan nya selama 2 tahun. Semoga pelatihan singkat ini dapat betul-betul dirasakan manfaatnya oleh guru dan murid yang terlihat begitu antusias dan fokus saat sesi dialog dengan beberapa pertanyaan yang mereka kemukakan, tutupnya. (ds)
Editor : Zabur








