Asia Ramai-ramai Tendang Dolar, Indonesia Paling Belakang

redaktur redaktur

Foto: Pixabay/Peggy

KARUNAKEPRI.COM, JAKARTA Mata uang Asia tampil perkasa pekan ini setelah dolar Amerika Serikat (AS) hancur. Penundaan tarif perdagangan serta intervensi bank sentral membuat rupiah hingga rupee menguat.

Pada perdagangan Jumat (14/2/2025), nilai tukar rupiah ditutup di Rp 16.255 atau menguat 0,58%terhadap dolar AS. Posisi ini adalah yang terkuat sepanjang Februari 2025.

Dalam sepekan rupiah menguat 0,09%. Artinya, mata uang Garuda sudah menguat dalam dua pekan beruntun.

Penguatan tidak hanya dialami rupiah. Seluruh mata uang utama Asia juga menguat terhadap dolar AS pada pekan ini.

Rupee India dan dolar Singapura menjadi mata uang paling bersinar dengan penguatan 1,16%.  Won Korea dan yen Jepang menyusul di belakang rupee dan dolar Singapura.
Meski menguat, kenaikan rupiah terbilang kecil dibandingkan mata uang Asia lainnya yakni hanya 0,09%.

Melemahnya dolar AS dan penundaan tarif perdagangan menjadi alasan utama dibalik penguatan ini.

Indeks dolar AS ditutup 106,79 atau terlemah sejak pertengahan Desember 2024. Pelemahan ini menandai banyaknya penjualan dolar AS oleh investor.

Dolar melemah setelah Presiden AS Donald Trump menunda pemberlakuan tarif perdagangan.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menandatangani memorandum untuk menelusuri tarif perdagangan pada Kamis (13/2/2025). AS akan meneliti lebih lanjut negara mitra dagang mana yang membuat mereka merugi sehingga perlu dikenai kenaikan tarif.  Namun, tarif kemungkinan baru akan diberlakukan pada April karena pemerintah AS perlu menyusuri data lebih jauh.

“Pelaku pasar tampaknya terdorong oleh potensi penundaan tarif, yang mendorong mata uang Emerging Markets seperti ringgit menguat” kata Jeff Ng, kepala strategi makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corporation, kepada The Edge Malaysia.

Ringgit Malaysia 0,11% karena data ekonomi Malaysia menunjukkan perbaikan. Sementara itu, penguatan rupee ditopang oleh intervensi Reserve Bank of India (RBI).

Dikutip dari Reuters, DBS Bank memperkirakan RBI melakukan intervensi $10 miliar sementara Goldman Sachs mendekati $11 miliar.

“Posisi bearish terhadap rupee semakin meningkat dan itulah yang kemungkinan membuat RBI merasa tidak nyaman dan bertindak. Apa yang coba dilakukan RBI adalah menciptakan volatilitas dua arah,” kata Dhiraj Nim, seorang strategis FX dan ekonom di ANZ Bank.

Sumber : cnbcindonesia.com

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar